Iklan

Senin 08 2025, Desember 08, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-09T03:29:45Z
BeritaBerita BulelengTPA Bengkala

TPA Bengkala Kritis: Tumpukan Sampah Capai 143 Ton/Hari, DLH Buleleng Minta Masyarakat Pilah dari Rumah

Advertisement

 


Kabarnetizens.com -- Terlihat dua alat berat terus bekerja menggaruk tumpukan sampah setiap hari sampai di kerumuni lalat di TPA Bengkala,Kubutambahan. Setiap hari sampah masuk ke TPA Bengkala hasil kerjasama dengan desa-desa yang diluar PKS mencapai 143 ton. Kendati dibuatkan aturan terhadap cara pembuangan sampah Senin sampai Kamis sampah organic, Non organic di hari Sabtu sedangkan Residu di hari minggu namun tetap saja kewalahan dalam pemilahan di TPA Bengkala oleh petugas sampah.


Kondisi ini terpantau oleh awak media   Senin (8/12) di TPA Bengkala para mengais rejeki berjibaku mencari barang bekas, baik mengumpulkan sisa-sisa nasi maupun plastik yang bisa dijual, bahkan terlihat pemulung mengumpulkan kotoran sisa dari bulu ayam untuk di kirim keluar Bali diolah sebagai pakan ternak 


Kesadaran masyarakat terhadap budaya pemilahan sampah dari rumah masi sangat minim, sampah organic dan residu terus dijadikan satu kendati dilakukan kerjasama. Dalam penanganan sampah pemerintah Desa harus mengedukasi masyarakatnya selain mengurangi sampah penerapan pemilahan harus dilakukan dan manfaatkan ruang kosong untuk mengolah sampah organic menjadi pupuk berguna untuk tanaman. 


Kadis DLH Buleleng Gede Putra Aryana sebari ke TPA bersama tim  sembari dikrumuni lalat yang berkeliaran bak ikut mengais rejeki dari sisa sampah masyarakat. Para petugas DLH terkadang tak pernah tidur terhadap penerimaan laporan dan keluhan masyarakat Buleleng.

"Kami bekerja tidak akan putus asa, berupaya Buleleng ini harus bersih dari sampah, dari membuat program dan mengedukasi masyarakat untuk belajar memilah dari sumbernya, namun ada saja yang belum memahami”kata Gede Putra Aryana.


Ia sangat prihatin dengan  tumpukan sampah di TPA Bengkala kendati lahan yang disediakan hampi 8 hektar untuk mengatasi sampah-sampah dari pedesaan dan perkotaan.


"Dengan kondisi saat ini pemerintah desa baik adat dan dinas harus punya TPS3R untuk mengolah sampahnya sendiri, yang organic bisa diolah untuk pupuk non organic bisa di jual, kami heran juga desa di wilayah barat sampai ikut buang ke Bengkala apa di desa tersebut tidak ada lahan untuk mengolah sampah organic nya. Ini yang sangat kami harapak,”jelas Kadis LH Buleleng.

Editor: DS