Iklan

Zainuddin Yasin
Rabu 03 2024, Januari 03, 2024 WIB
Last Updated 2024-01-05T10:00:31Z
BeritaBerita BulelengHukrim

Tragedi Lovina Kelabu: Keluarga Ketut Bagia Diserang di Malam Tahun Baru Seorang WNI Belanda Bernama Marten Ikut Dicekik

Advertisement



LOVINA_ kabarnetizens.com 

Kemeriahan pesta malam pergantian tahun (malam tahun baru) di kawasan wisata Lovina, Buleleng, Bali, benar benar  ternoda. Ini lantaran persis pukul 00.00 wita saat pergantian tahun kala pesta kembang api dan ucapan selamat tahun baru sedang mengundang di antara ribuan pengunjung kawasan wisata ternama di Bali Utara itu, tiba-tiba terjadi penyerangan terhadap Ketut Bagia dan anak-anaknya yang sedang melayani tamu di warung miliknya di kawasan wisata tersebut. Warung milik korban bernama Le Mineral,


Dugaan sementara, bentrok antarkeluarga sesama warga Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, itu akibat terjadi salah paham antara korban Ketut Bagia dengan para pelaku  yang adalah keluarga Mangku Suastika, salah satu tokoh masyarakat di Desa Kalibukbuk. Bukan hanya keluarga Ketut Bagia yang menjadi korban brutalitas keluarga Mangku Suastika, tetapi seoramng turis asal Belanda bernama Marten yang sedang berlibur di Lovina turut menjadi korban. Bule asal Belanda itu dicekik lehernya oleh salah satu pelaku.


Aksi penganiayaan di malam tahun baru yang merusak citra pariwisata Lovina dan Bali pada umumnya itu dilaporkan korban ke Polres Buleleng di Jalan Pramuka No 1 Singaraja, Selasa (2/1/2024).


Korban Gede Budiana ditemui di Kantor dari B&S Law Office yang beralamat di Jalan Patimura No. 8 Singaraja, Bali, Selasa (2/1/2024) ssore menceritakan bahawa dirinya tidak tahu-menahu motif penyerangan terhadap keluarganya. Namun dugaan kuat  aksi premanisme itu terjadi karena salah paham.


 “Saya jaga warung, tamu ramai fullah dan bapak saya lagi handle tamu sambil mengucapkan happy new year, pas jam 12.00 semua pada ke pantai merayakan tahun baru, Setelah perayaan kembang api, bapak saya ke warung lagi, terlihat orang memukul dan menendang dari belakang. Saya pikir apain ini, soal yang pukul dan nendang itu saya tahu semuanya ornagnya. Apain tu?  Jatuh ada yang pegang tangannya namanya Blatu, rambutnya dipeganhg, langsung dpukul. Yang namanya Koming dan si Agus pukul bapak saya. Kok bapa saya yang minta  tolong, dhajar sama mereka. Langsung saya lari, wong jaraknya dekat kan. Saya mau lindungi bapak saya, saya malah dipukul, diseret banyak orang ini. Tapi yang pukul cuma bertiga dulu (koming sama agus, sama di blatu yang nyekik), Semuanya orang Kalibukbu. Habis itu saya diseret ke pantai banyak oramng sambil dipukul ditendantg.,” jelas Budiana kepda media ini.


“Di sana ada Mangku Suastika yang bilang saya anak kurang hajar. Saya dipukul tapi kena topi saya. Anak buah say amau melerai, anak buah saya diserang sampai ajtuh ke got, HP sampai rusak. Saya dibantu orang ke warung. Bapak saya disudah aman dibantu orang, bapak saya diduduki di warung, saya lagi tarik nafas. Bapak saya ,lagi diserang, kayak diserbut  dikomandoi Mangku Suastika itu. Bapak saya jatuh diinjak=injak bapak saya,” sambung Budiana.

 

Apa motifnya ini? :Kata bapak saya karena ada  cekcok, masalah salah paham aja gitu,” ungkap Budiana.


Apakah ada masalah selama ini? “Tidak ada masalah apa-apa saya (sebelumnya).  Dia datang seperti biasa, semua kena baik sama saya. Adik saya melerai hampir kena. Adik saya wanita. Sampai bule-bule mau menolong sampai dilawan sama mereka gitu loh. Pak Mangku bilang, ‘Awas kamu lapor polisi, berhadapan dengan saya, dia bilang gitu.’ Saya berusaha selamati bapak saya bawa ke RS, ketemu warung dia, bilang hei kamu turun dari mobil, ta matiin kamu,” cerita Budiana.


Ketut Bagia yang serang anak-anak Mangku Suastika menyatakan: “Ini salah paham saja karena ngomoang saya, Saya kira tidak ada apa-apa lagi, tahu-tahu saya diserang dari belakang. Rambut saya dipegang, ada yang pukul ada yang kepala saya ke tanah. Saya tidak tahu mau diserang.”


Sementara Budi Hartawan, SH, CHt, CI, penasehat hukum korban, sangat menyayangkang tidak premanisme yang dilakukan pelaku karena hal itu telah merusah citra pariwisata Buleleng dan Bali pada umumnya. “Saya sangat sesalkan kepada mereka yang orang sana (kawasan wisata Lovina, red) yang malah membuat keributan di sana. Padahal mereka hidup dan cari makan dari kunjungan turis di Lovina,” tandas Budi Hartawan.


“Saya sakut kepada Polres Buleleng karena sangat responsif. Begitu kita lapor, tidak butuh waktuu waktu lama sudah bwerhasil menangkap 4 pelaku,” pungkas Budi Hartawan.


Informasi yang peroleh media ini menyebutkan bahwa empat pelaku sudah diamankan Satreskrim Polres Buleleng setelah korban melakukan laporan ke Polres Buleleng, Selasa (2/1/2024). Seperti dalam  Surat Tanda PenerimaanLaporan Nomor: LP/H/1/1/2024/SPKT/Polrs Buleleng, Polda Bali tertanggal 1 Januari 2024. (Tim_net)